Jumat, 29 April 2011

wajah indonesia


KEMISKINAN JANGAN DIJADIKAN KOMODITAS!!!   Apa pun alasan nya, pasti tidak akan ada yang membantah, jika disimpulkan bahwa warga bangsa terbesar yang masih terjerat dalam jeratan kemiskinan adalah kaum tani dan nelayan. Suasana pilu dan nelangsa, senantia...sa akan menyelimuti kehidupan nya. Kaum tani dan nelayan adalah bagian terbesar dari warga bangsa. Mereka seolah-olah sangat sulit untuk melepaskan diri dari lilitan kemiskinan yang mencengkram kehidupan nya. Mereka terkesan cukup kesulitan dalam membangun kebangkitan diri dan keluarga nya. Mereka juga bosan terus-terusan dijadikan obyek pengamatan, pengkajian dan penelitian para pakar yang bekerja keras untuk memerangi kemiskinan nya.   Hal ini lumrah mengemuka, karena seiring dengan sering nya penelitian, semakin banyak nya seminar tentang kemiskinan yang digelar, semakin intens nya program-program yang diluncurkan guna menanggulangi kemiskinan, ternyata jumlah dan kualitas kemiskinan tidak terlampau banyak mengalami perubahan. Sekali pun dalam beberapa tahun ini gencar disuarakan BPS tentang semakin berkurang nya jumlah kemiskinan, namun pengurangan tersebut tidaklah sebanding dengan korbanan yang dikeluarkan guna memberantas kemiskinan itu sendiri. Dengan kata lain dapat juga dikatakan antara target yang ditetapkan Pemerintah dengan realitas nya di lapangan, upaya menghapuskan kemiskinan rakyat, terekam masih belum signifikan. Itu pun jika tidak mau disebut belum sesuai target yang digariskan.   Dalam kehidupan petani (baca : peasant), yang nama nya kemiskinan bukanlah suatu hal yang baru dan aneh. Petani dan Nelayan, memang sudah sangat akrab dengan yang nama nya kemiskinan. Walau pun mereka memiliki tafsir dan persepsi yang berbeda soal kemiskinan, namun berbasis pada kesimpulan para pakar, maka sebagian besar dari mereka itu layak diklasifikan ke dalam jajaran masyarakat miskin. Vonis ini bisa saja berbeda jika kita bicara dengan mereka, lalu kita tanyakan apakah mereka itu miskin, maka boleh jadi mereka akan menolak nya.   Kilah yang diungkap biasa nya klasik, karena dalam kondisi kehidupan nya yang sekarang, ternyata mereka masih bisa makan, bisa beli rokok dan bisa bercocok-tanam padi. Secara tersirat mereka pun tampak mampu menikmati kehidupan sesuai dengan dunia nya. Terkait dengan "harga diri" bisa jadi mereka pun tidak berkenan jika dikatakan miskin atau melarat. Akan tetapi, seirama dengan perguliran jaman, di kalangan masyarakat tani dan nelayan pun tumbuh sebuah "budaya" baru dalam kehidupan nya. Sikap malu untuk mengaku miskin, di beberapa daerah terekam hal yang sebalik nya. Rata-rata dari mereka ternyata merasa perlu untuk mengaku diri nya miskin. Bahkan tidak sedikit mereka yang seharus nya tidak terkategorikan miskin, kini ikut-ikutan mengaku jadi orang miskin.   Istilah miskin rupa nya sudah tidak dianggap sebagai hal yang memalukan, atau berhubungan dengan harga diri seseorang, namun suka atau pun tidak, kini semakin banyak orang yang merasa perlu untuk memposisikan diri sebagai masyarakat miskin. Selidik punya selidik, ternyata kondisi ini tercipta bukan semata-mata lahir dari kesadaran diri mereka. Sikap ini muncul dikarenakan ada "iming-iming" dari kebijakan yang dilakukan Pemerintah. Sebut saja program Bantuan Tunai Langsung (BLT) dan Program Beras untuk Rakyat Miskin (Raskin).   Ke dua program ini memang hanya akan diberikan sebagai "targeted subsidies" kepada masyarakat miskin yang kriteria nya ditetapkan oleh BPS. Paling tidak ada 3 kriteria yang ditentukan yaitu miskin, hampir miskin dan sangat miskin. Akibat nya wajar, ketika BPS melakukan survey lapangan, maka ditengarai banyak warga bangsa yang ingin disebut miskin. Ada juga yang ketika disurvey pura-pura hamil (mengganjal perut nya dengan bantal). Ada yang sejenak menyembunyikan HP yang dimiliki nya. Bahkan ada juga yang menukar pakaian bagus nya dengan pakaian yang selayak nya digunakan oleh masyarakat miskin. Motivasi mereka sederhana, yakni supaya kebagian uang tunai dan beras raskin. Mereka tidak berpikir yang lain, apalagi ada aura politik di dalam nya.   Hanya ada satu hal yang pantas dicatat, dengan semarak nya Pilkada di daerah, ternyata "money syndrome" kini semakin mewabah dalam kehidupan masyarakat, termasuk mereka yang bermukim di perdesaan. Ukuran nilai sosial bergeser ke ukuran ekonomis. Kekuatan gotong-royong berubah ke kepentingan individu. Semua serba pragmatis. Seluruh nya harus instan dan "eces".   Bahkan di dalam kalangan mereka pun kita marak slogan bahwa "dalam hidup ini tidak ada yang gratis". Semua ada tarif nya. Semua ada nilai nya. Semua ada ongkos nya. Dan semua harus ada nilai tambah ekonomi nya. Itulah "perubahan nilai" yang terjadi sebagai dampak nyata dari proses demokrasi yang meminta rakyat guna memilih pemimpin nya secara langsung. Lihat Selengkapnya
Oleh: Gerakan Rakyat Marjin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar